Home / Sastra / Sumpah Pemuda di Mata Sastrawan Muda

Sumpah Pemuda di Mata Sastrawan Muda

Sumpah Pemuda di Mata Sastrawan Muda
Internet

Kabar Melayu (Jakarta) - Rumah bersejarah milik Sie Kok Liong di Jalan Kramat Raya No 106, menjadi saksi patriotisme para pemuda yang berkomiten untuk bertanah air satu, berbangsa satu, dan menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Ikrar yang dikenal dengan Sumpah Pemuda ini menjadi penting dalam tahapan pergerakan kebangsaan Indonesia, hingga melahirkan momen penting Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.

Namun bagaimana seharusnya para pemuda memandang Sumpah Pemuda dalam konteks kenikinian? Agus Noor, sastrawan muda Indonesia di Museum Sumpah Pemuda mengatakan, yang paling penting sekarang adalah bagaimana para pemuda punya kemauan untuk bersikap, dan memilih informasi, seperti yang pemuda-pemuda tahun 1928 lakukan.

“Di zaman sekarang ini informasi mudah didapat, lalu informasi yang seperti apa yang kita cari, yang kita reproduksi ulang, dan kita kembangkan menjadi isu bersama,” ujar Agus Noor sepereti dilansir liputan6.com.

Bagi Agus Noor, Sumpah Pemuda dalam konteks kekinian erat hubungannya dengan bagaimanna cara pemuda mengorganisasi isu dan pengetahuan mereka. 

“Sumpah Pemuda itu kan mengorganisasikan isu, mengorganisasikan pemikiran. Sekarang sulit, misal ada satu isu, belum tentu semua setuju, lalu menjadi pro dan kontra, dan menjadi kontra produktif pada akhirnya. Ini yang sulit dan menjadi tantangan bagi pemuda saat ini,” ungkap sastrawan yang sedang mempersiapkan buku karya terbarunya, Kitab Kebohongan.(km)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.