Home / Nusantara / Ada Foto Luhut di Situs Konsultan Pereira International

Ada Foto Luhut di Situs Konsultan Pereira International

Ada Foto Luhut di Situs Konsultan Pereira International
Situs Pereira International

Kabar Melayu (JAKARTA) - Michael Buehler, dosen Ilmu Politik Asia Tenggara di School of Oriental and African Studies di London membuat geger Indonesia setelah tulisannya di New Mandala http://asiapacific.anu.edu.au, Jumat, (6/11) ramai dibicarakan publik Indonesia.

Artikel berjudul 'Waiting In The White House Lobby' tersebut mengungkap adanya broker, yaitu perusahaan konsultan Singapura yang harus membayar 80 ribu dolar AS atau sekitar Rp 1,08 miliar kepada perusahaan di Las Vegas. Tujuannya agar pemerintah Indonesia mendapatkan kesempatan dan akses ke Gedung Putih.

Konsultan Singapura itu bernama Pereira International Pte LTD. Adapun perusahaan PR asal Las Vegas bernama R&R Partner's Inc. Pereira Internasional, kata dia, Buehler, disebut memiliki kedekatan dan dekat dengan Menko Polhukam Luhut Panjaitan. (Baca: Skandal Terungkap! Jokowi Diduga Bayar Broker untuk Bertemu Obama)

Dalam dokumen tersebut terungkap kesepakatan kerja sama dengan nilai kontrak 80 ribu dolar AS. Perjanjian itu ditandatangani Sean Tonner sebagai Presiden R&R Partners dan Derwin Pereira mewakili International Pereira.

Dalam laman resmi Pereire di http://www.pereiraintl.com/ dipajang berbagai figur kepala negara. Selain Presiden Jokowi, ada pula Presiden AS Barack Obama, Presiden Cina Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir putin, Perdana Menteri (PM) India Narendra Modi, dan PM Jepang Shinzō Abe.

Di halaman muka situs tersebut, terdapat pula Wapres Jusuf Kalla dan Presiden RI ke-5 Megawati Soekarnoputri. Ada pula foto lima pimpinan DPR. Yang unik, terpampang pula foto Luhut Panjaitan. 

Luhut memang mengakui kenal dengan pemilik konsultas asal Singapura tersebut. "Saya gak akrab (dengan Pereira), hanya teman, Semua teman," ujarnya saat mengunjungi Kementerian Luar Negeri, Senin (9/11).

Sebelumnya, Buehler menulis, perusahaan lobi R&R Partners tidak memiliki rekam jejak dalam memahami dinamika politik yang terjadi di Indonesia. Itu lantaran latar belakang pimpinannya tidak memiliki pengalaman tinggal di Indonesia.

Hal berbeda dialami Derwin Pereira yang dinilai memahami dinamika politik yang terjadi di Tanah Air. Setelah meraih gelar sarjana di London School of Economics pada awal 1990-an, ia bekerja sebagai jurnalis untuk surat kabar Singapura, The Straits Times. Dia bertugas di Indonesia, dan ketika kejatuhan presiden Soeharto pada 1998, ia menjadi Kepala Biro.

Setelah itu, Pereira ditempatkan di Washington, hingga kemudian undur diri untuk mendirikan perusahaan konsultan sendiri. Pereira, kara Buehler, membanggakan dirinya karena "kemampuannya untuk membangun kontak di tempat tertinggi" dan "akses yang mendalam dengan elite politik dan bisnis di Jakarta, dan punya akses eksklusif mendapatkan informasi penting.

Dalam dokumen yang dibuka Departemen Kehakiman AS, tidak menyebutkan siapa pun dalam pemerintahan Indonesia yang mempekerjakan Pereira dan R&R Partners. Hanya saja, Pereira juga memiliki rekam jejak melobi tokoh Indonesia, dan pernah berhubungan dengan Luhut Panjaitan. Dia pernah menulis dan mewawancari Luhut Panjaitan untuk The Straits Times selama menjadi duta besar Indonesia untuk Singapura 1999-2000.

Sumber

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.