Home / Features / Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (3)

Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (3)

Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (3)
Internet
Surat kabar Pewarta Boemi.

Koran Berbahasa Melayu di Belanda

Surat kabar berbahasa Melayu dan beraksara Latin tidak hanya terbit di Hindia Belanda, tetapi juga di negeri Belanda sendiri. Tercatat, pada tahun 1856 di Rotterdam terbit sebuah surat kabar bernama Bintang Utara dengan redaksi bernama Dr. P.P. Roorda van Eysinga. Meskipun isinya sulit dimengerti karena banyak bercampur dengan kosa kata Arab tetapi surat kabar ini paling sering memuat kisah-kisah dari Seribu Satu Malam.

Pada tahun 1890 di Amsterdam juga pernah terbit koran berbahasa Melayu dengan nama Pewarta Boemi dengan redaksi seorang mantan asisten residen Y. Strik yang waktu itu berprofesi sebagai guru bahasa Melayu di sekolah pertanian.

Pada tahun 1902 masih di Amsterdam terbit juga sebuah surat kabar dengan nama Bendera Wolanda yang kemudian diganti menjadi Bintang Hindia dengan penerbit bernama H.C.C. Clockener Brousson. Dua orang pelajar dari pribumi waktu itu duduk sebagai redaksinya yaitu A. Rivai dan R.A.A. Kusumo Yudo.

Letnan Clockener Brousson ini juga pernah memimpin surat kabar Soerat Chabar Soldadoe yang ditujukan khusus pada tentara Hindia Belanda keturunan Ambon yang sempat cukup populer dan akhirnya berhenti diterbitkan karena alasan yang tidak jelas. Clockener ini menurut surat kabar di Haarlem pada November 1902, mengubah agamanya menjadi Islam supaya dapat memperlancar urusannya di Indonesia.

Pada tahun 1877, di Singapura juga telah terbit tiga surat kabar berbahasa Melayu dengan tulisan Arab yaitu Wazir India yang juga diterbitkan di Batavia.

Kisah dan Jasa Arnold Snackey

Pada zamannya, Arnold Snackey merupakan satu-satunya orang di Padang yang berusaha keras menyelidiki dan mendalami sejarah dan kebudayaan Minangkabau. Sebelum dan sesudah dia menerbitkan Bentara Melayu, Arnold Snackey sering sekali menulis tentang bahasa, sejarah, dan kesusasteraan Minang. Antara lain dialah yang banyak menerjemahkan "kaba" yang begitu populer di antara rakyat.

Dia pula yang menerjemahkan "Permulaan Berdirinya Pohon" yang dianggap sejarah paling lengkap semenjak Belanda dengan VOC-nya sampai di Padang hingga zaman pendudukan Inggris. Dia juga banyak menulis sejarah bersumberkan cerita-cerita lisan, menampilkan syair dan pantun khas Minang seperti kisah Cindur Mato.

Snackey juga pernah menerjemahkan syair-syair Multatuli, dan dia benar-benar menguasai bahasa Melayu dengan baik. Arnold Snackey juga berjasa melalui wawancaranya dengan orang-orang tua waktu itu, mengungkapkan sedikit latar belakang hidup di Sumatera Barat, khususnya di kota Padang sejak awal abad ke-19. Begitu pula tentang orang-orang yang menjalankan peranan selama Perang Pidari (Paderi).

Selain itu, Arnold juga menerbitkan brosur kecil di Betawi tahun 1888, berjudul "Syair Sunur". Walaupun begitu, namanya tak pernah didengar, apalagi penghargaan atas semua karyanya. Mungkin ini disebabkan karena dia bukan pegawai pemerintah, mungkin pula karena dia tidak tergolong ahli sejarah.

Siapa pula yang mau memperhatikan seorang Indo walaupun sering menulis, di suatu tempat kecil di pantai barat Pulau Sumatera. Waktu itu, untuk mendapat pengakuan, orang harus mengadakan penyelidikan mendalam, mengarang buku-buku tebal, tidak sekedar menulis karangan-karangan di Koran.

Namun jasa-jasanya bagi sejarah dan kebudayaan Minang, patut mendapat perhatian. Sebagai keluarga khas Indo di Padang yang menyandang nama Snackey, bertebaran dimana-mana menduduki tempat - tempat khas disediakan untuk kaum Indo.

Sejarah keluarga Arnold Snackey memiliki riwayat yang cukup banyak di Sumatera Barat. Seorang pria bernama A.A. Snackey yang pernah menjabat sebagai Panitera (Griffier) di kantor Pengadilan Batusangkar, ia kemudian pindah ke Balai Selasa pada tahun 1773. Seorang lagi, J.G Snackey mencapai pangkat cukup lumayan, yakni Kepala Kantor dibawah Sekretaris Gubernur Sumatera Barat sekitar awal tahun dua puluhan.

Dia memulai kariernya di kantor polisi Padang dan sekitarnya. Dan seorang lagi A.V. Snackey pernah komis di Painan, kemudian dipindahkan ke kantor Residen Padang Darek di Bukit Tinggi tahun 1887.

Sebelumnya: Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (2)

Sumber

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.