Home / Features / Kisah Tujuh Anak yang Dibesarkan Binatang

Kisah Tujuh Anak yang Dibesarkan Binatang

Kisah Tujuh Anak yang Dibesarkan Binatang
BBC

Kabar Melayu - Ini adalah kisah anak-anak yang dibesarkan oleh binatang. Bertahun-tahun hidup di antara binatang, membuat mereka mengikuti perilaku dan memiliki ikatan kuat dengan binatang yang membesarkannya.

Ini juga merupakan kisah seorang anak yang sangat kecil, yang mencoba bertahan hidup di tengah ganasnya lingkungan. Mereka lari dari kehidupan manusia dan lebih memilih hidup dan bergabung di antara hewan. 

Indah dan mengganggu pada saat yang sama. Foto-foto dari proyek yang dikerjakan oleh Julia Fullerton Batten ini seakan berasal dari alam mimpi dan seperti cerita dunia dongeng. Namun kehidupan yang digambarkannya nyata.

“Ada dua skenario berbeda. Pertama, ketika anak-anak ini terdampar di hutan dan ketika anak-anak ini dilecehkan dan diabaikan di rumah, tapi benar-benar ditinggalkan dan disengsarakan, sehingga mereka merasa lebih nyaman berada di antara hewan daripada manusia,” kata fotografer Julia Fullerton Batten.


Berikut kisah anak-anak yang dibesarkan oleh binatang:

1. Oxana Malaya (Ukraina 1991)

Menurut Fullerton Batten, Oxana ditemukan hidup di antara anjing-anjing di sebuah kandang pada tahun 1991. Usianya delapan tahun ketika itu, ia sudah tinggal bersama mereka selama enam tahun. Kedua orangtuanya pemabuk, dan suatu hari mereka meninggalkan Oxana di luar rumah.

Demi mencari kehangatan, gadis kecil itu merangkak menuju kandang anjing di pertanian, kemudian meringkuk bersama anjing-anjing gelandangan dan kemungkinan besar tindakan itu menyelamatkan hidupnya.

Ia berlari dengan menggunakan kaki dan tangannya, menjulur-julurkan lidah, memperlihatkan gigi dan menggonggong. Karena hampir tak pernah berhubungan dengan manusia, kata yang ia tahu cuma "ya" dan "tidak".

Oxana sekarang tinggal di sebuah klinik di Odessa. iDia bekerja di sebuah rumah sakit hewan.

2. Shamdeo (India 1972)


“Ini tidak sama dengan Tarzan,” kata Fullerton-Batten. Anak-anak ini harus berkelahi dengan hewan untuk mendapatkan makanan mereka sendiri, mereka harus belajar untuk bertahan hidup. Ketika saya membaca kisah mereka, saya kaget dan ketakutan.

Ada 15 kasus dalam proyek anak-anak yang diabaikan di alam liar dan dibesarkan oleh hewan, dibuat dengan fotografi yang dirancang untuk menceritakan kisah anak-anak yang terisolasi dari kontak dengan manusia, kerap dalam usia yang amat muda.

Kasus ini menceritakan Shamdeo, seorang anak yang ditemukan di sebuah hutan di India di tahun 1972. Ia diduga berusia empat tahun.

“Ia sedang bermain dengan anak serigala. Kulitnya amat gelap, dan giginya tajam, kuku runcing, rambut kusut masai dan kapalan di telapak kaki, kedua siku dan lutut. Ia senang sekali berburu ayam, makan tanah dan gemar darah. Ia punya ikatan kuat dengan anjing,” kata Julia.

Ia tak pernah bicara, tapi belajar bahasa isyarat dan meninggal dunia tahun 1985.

3. Marina Chapman (Colombia 1959)


Fullerton Batten terinspirasi untuk memulai proyek ini sesudah membaca The Girl With No Name, sebuah buku tentang perempuan Kolombia bernama Marina Chapman. 

Marina diculik pada tahun 1954 dari sebuah desa terpencil di Amerika Selatan dan tinggalkan oleh penculiknya di hutan. Saat itu usianya lima tahun.

“Ia hidup bersama keluarga monyet capuchin selama lima tahun, sebelum ditemukan oleh pemburu,” kata Fullerton Batten. 

Ia makan buah-buahan beri, akar dan pisang yang dijatuhkan oleh para monyet. Marina Chapman tidur di lubang pohon. Dia berjalan dengan kaki dan tangan, seperti monyet. Namun ini bukan berarti monyet-monyet itu memberinya makanan, ia harus  belajar untuk bertahan hidup, ia punya kemampuan dan akal sehat, ia meniru perilaku mereka dan mereka terbiasa dengannya. Seperti mencari kutu di rambutnya dan memperlakukannya seperti monyet.

Chapman kini tinggal di Yorkshire dengan seorang suami dan dua orang anak. “Karena ceritanya amat tidak biasa, banyak orang tidak percaya. Mereka menyinari badannya dengan sinar X dan melihat tulang-tulangnya. Ia benar-benar kekurangan nutrisi karena pengalaman masa kecilnya itu, dan mereka  menyimpulkan hal itu sangat mungkin terjadi.” ucap Fullerton.

"Ia sangat gembira saya menggunakan kisahnya dan membuat proyek ini.” Kata fotografer ini.

4. John Ssebunya (Uganda 1991)


Julia Fullerton Batten diberi saran oleh Mary Ann Ochota, seorang antropolog Inggris dan presenter dalam acara TV tentang anak-anak yang hidup di alam liar. “Ia pernah ke Ukrainia, Uganda dan Fiji dan bertemu dengan tiga orang anak yang kini masih hidup,” kata Fullerton Batten.

Hal itu sangat membantu bagi Fullerton Batten untuk mengarahkan bagaimana mereka meletakkan tangan, bagaimana cara berjalan dan bagaimana mereka bertahan hidup.

Dia ingin membuat foto-foto ini kelihatan senyata mungkin dan sedapat mungkin dipercaya oleh yang melihatnya.

Kasus John Ssebunya, John lari dari rumah tahun 1988 setelah ia melihat ayahnya membunuh ibunya. Ketika itu ia berumur tiga tahun. Ia kabur ke hutan dan hidup di antara monyet-monyet. Ia ditemukan tahun 1991, sekitar enam tahun usianya dan ditempatkan di panti asuhan. Saat ditemukan, lututnya kapalan karena berjalan seperti monyet.

John belajar bicara dan pernah jadi anggota paduan suara anak-anak Pearl of Africa. Kebanyakan kisah anak-anak seperti ini adalah mitos ketimbang kenyataan, tapi Ochota percaya, kisah Ssebunya benar adanya. 

“Ini bukan kisah bohong, anak-anak yang hidup di alam liar yang standar. Kami menyelidiki kisah yang nyata,” tulisnya di harian The Independent tahun 2012.  

5. Madina, (Rusia 2013)

“Kisah anak-anak yang hidup secara liar ini aneh dan kerap jadi sumber aib dan rahasia keluarga dan komunitas setempat,” tulis Mary Ann Ochota di situs webnya. Ini bukan kisah dalam buku Jungle Book karya Rudyard Kipling. Anak-anak ini kerap merupakan kisah pengabaian dan pelecehan. Kemungkinan besar ini merupakan kombinasi dari kecanduan, kekerasan domestik dan kemiskinan. Anak-anak ini adalah anak yang terperosok ke dalam lubang, dilupakan, diabaikan atau disembunyikan.

Menurut Fullerton Batten, Madina hidup bersama anjing, mulai dari lahir sampai berumur tiga tahun, berbagi makanan, bermain dan tidur bersama mereka dalam cuaca musim dingin. 

Ketika pekerja sosial menemukannya di tahun 2013, ia telanjang, berjalan dengan kaki tangan dan menggonggong seperti anjing.

Ayah Madina pergi sesaat sesudah kelahirannya. Ibunya, perempuan berusia 23 tahun, kecanduan berat alkohol. Ia kerap terlalu mabuk untuk merawat anaknya. Ia duduk saja di meja untuk makan, sementara anaknya mengunyah tulang di lantai bersama para anjing.

Madina dibawa ke perawatan. Dokter menyatakan ia sehat secara mental dan fisik, meskipun harus menjalani hidup seperti itu.

6. Sujit Kumar (Fiji 1978)


“Sujit berumur delapan tahun ketika ditemukan di tengah jalan berkotek-kotek dan mengepak-ngepakkan tangan seperti ayam,” kata Fullerton Batten.

Ia mematuk makanannya, meringkuk di kursi seakan-akan seekor ayah jantan dan mendecak-dekakan mulut dengan lidah. Orang tuanya menguncinya di kandang ayam. Ibunya bunuh diri dan ayahnya tewas sebagai korban pembunuhan. Kakeknya mengambil alih pengasuhannya, tapi tetap mengurungnya di kandang ayam.

Bagi anak-anak, peralihan sesudah ditemukan, kerap lebih sulit daripada menghabiskan hidup di dalam isolasi.

“Ketika mereka ditemukan, hal itu sungguh mengejutkan. Mereka belajar perilaku hewan, jari mereka terbentuk seperti cakar dan mereka tak bisa memegang sendok.

Kumar kini dirawat oleh Elizabeth Clayton yang menyelamatkannya dari rumah orang tuanya dan kemudian mendirikan lembaga amal untuk anak-anak yang membutuhkan.


7. Ivan Mishukov (Russia 1998)


Selain kisah yang mengerikan dalam proyeknya, gambar-gambar Fullerton Batten menceritakan tentang kisah untuk bertahan hidup.

“Manusia membutuhkan kontak dengan manusia lain, tetapi anak-anak ini sepanjang hidupnya fokus pada insting untuk bertahan hidup,” katanya.

Ivan kabur dari keluarganya ketika ia berumur empat tahun, makan makanan sisa dan memberikannya kepada anjing liar hingga akhirnya menjadi pemimpin gerombolan. Ia hidup di jalan selama dua tahun sebelum dibawa ke penampungan anak-anak.

Dalam bukunya, Savage Girls And Wild Boys: A History Of Feral Children, Michael Newton menulis, Hubungan-hubungan itu berjalan sempurna, jauh lebih baik ketimbang yang diketahui oleh Ivan mengenai hidup di antara sesama manusia. 

Ivan mengemis makanan, dan membagikannya kepada gerombolannya. Kemudian ia tidur bersama mereka dalam musim dingin yang panjang dalam kegelapan ketika suhu udara turun drastis.

Fullerton Batten percaya bahwa anak-anak alam liar ini bisa mengungkapkan yang yang disembunyikan dalam masyarakat yang tampaknya beradab. Sebuah kota bisa sama kejamnya dengan hutan.

“Ivan kabur, itu merupakan pilihannya untuk tak berada di rumah. Tapi rumahnya pastilah demikian buruk maka ia merasa lebih baik berada di jalan bersama gerombolan anjing,” kata Michale Newton.

“Saya mencoba untuk tak eksploitatif di sini. Tiga kasus di sini menginspirasi pembentukan badan amal, saya ingin membangkitkan kesadaran mengenai apa yang sedang terjadi di sekitar kita.” tuturnya.

Sumber: BBC

Editor: Andi

(Disunting tanpa mengurangi dan mengubah makna tulisan)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.