Home / Kuliner / Penganan Sagu Jauh Lebih Baik dari Beras dan Gandum

Penganan Sagu Jauh Lebih Baik dari Beras dan Gandum

Pj Bupati Meranti Ajak Mahasiswa Buka Gerai Sagu

Penganan Sagu Jauh Lebih Baik dari Beras dan Gandum
Internet
Mi Sagu

Kabar Melayu (PEKANBARU) - Penjabat (Pj) Bupati Kepulauan Meranti, Edy Kusdarwanto, mengajak mahasiswa ikut mempopulerkan penganan sagu. Mahasiswa diajak membuka gerai sagu. 

Ajakan itu disampaikan Edy saat menjadi narasumber pada talkshow pangan sagu di venue panjat tebing Universitas Riau (UR), Ahad (15/11) kemarin.  Talkshow digelar untuk memeriahkan aneka kegiatan bertemakan pangan pada even Harmoni Sejuta Karya yang ditaja Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UR sejak tanggal 12-15 November 2015.

"Saya lihat, sebagian besar konsumen di restoran cepat saji franchise itu adalah mahasiswa. Saya tantang mahasiswa untuk membuka gerai penganan sagu, agar pangan sagu asli Indonesia ini bisa kembali dikonsumsi secara luas," ungkapnya. 

Menurut Edy, sagu sebagai pangan nusantara sudah dimanfaatkan sejak dahulu. Bahkan pada relief di Candi Borobudur terdapat relief pohon sagu selain relief kelapa, lontar dan aren.

"Kita berharap pembahasan tentang sagu tidak hanya pada seminar-seminar, tapi juga pada semakin banyak hasil olahan pangan dan lainnya yang menggunakan sagu. Selain itu semakin luas konsumsi sagu dalam masyarakat," terang dia.

Edy pun memberikan apresisasi khusus kepada mahasiswa UR yang ikut berupaya mempopulerkan makanan sagu. Meski lahan sagu terluas di Riau ada di Meranti, namun Edy mengatakan hampir seluruh kabupaten/kota di Riau ditumbuhi tanaman sagu.

"Kita perlu meluruskan mindset masyarakat bahwa sagu itu bukan makanan kelas dua, bukan makanan orang miskin. Bahkan sagu itu jauh lebih baik dari beras, " paparnya.

Pada kegiatan itu, Pj Bupati sempat meninjau mahasiswa memasak mie sagu pada dapur umum. Ada sekitar enam kuali yang digunakan untuk menggoreng mie sagu. Para mahasiswa saling berkerja sama menggoreng dan membersihkan sayur toge sebagai campuran mie sagu goreng dan mencampurkannya cabe. 

Pj Bupati Edy memuji kerjasama mahasiswa dalam memasak. Dalam kesempatan itu Pj Bupati juga sempat bercanda dengan para mahasiswa.

Dalam talkshow tersebut tampil pula Prof Irwan Usman Pato, Dekan Fakultas Pertanian UR yang juga ketua Perhimpunan Ahli Teknologi Pangan Indonesia (PATPI) Cabang Riau. Tampil pula Erwin, General Manager PT. National Sago Prima, perusahaan sagu terbesar di Kepulauan Meranti.

Prof. Irwan memaparkan hasil kajian yang sangat menarik. Dia menegaskan bahwa kandungan sagu jauh lebih baik dari beras dan gandum.

"Energi yang dihasilkan sagu jauh lebing tinggi dari beras dan gandum. Orang yang mengkonsumsi sagu, seperti masyarakat di Papua, energinya jauh lebih kuat dari yang mengkonsumsi nasi," ungkapnya.

Irwan menjelaskan bahwa mindset masyarakat perlu diubah mengenai pangan sagu. Ini perlu terus disosialisasikan, bahwa sagu bukan makanan kelas dua, bukan makanan orang miskin, namun sagu justru makanan yang lebih menyehatkan karena memiliki kandungan energi tinggi dan rendah kadar gula.

"Kita perlu kembali ke pangan sagu yang produksinya sangat tinggi. Lahan pertanian padi semakin berkurang karena alih fungsi  lahan menjadi lahan bangunan dan perkebunan sawit, sementara tingkat konsumsi pangan di Riau terus meningkat tajam karena tingginya pertumbuhan penduduk," sebut Irwan.

Sebelumnya, Rektor UR Dr. Aras Mulyadi menjelaskan, sagu merupakan pangan yang sudah dikenal. Selain itu semakin banyak kajian tentang sagu telah dilakukan dan banyak manfaat sagu ditemukan mulai dari untuk produk pangan sampai bahan bakar.

"UR terus berupaya mengembangkan sagu ini. Kami sudah bekerjasama dengan Balitbang Provinsi Riau untuk pengkajian sagu. Bahkan jurnal kita di Fakultas Pertanian diberi nama Jurnal Sagu," paparnya.(rec)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.