Home / Budaya / Bupati Buka Festival Siak Bermadah XIII

Bupati Buka Festival Siak Bermadah XIII

Eksistensi Melayu Sebagai Pemersatu

Bupati Buka Festival Siak Bermadah XIII
Bupati Siak memetik gambus pertanda dibukanya Festival Siak Bermadah XIII tahun 2015

Kabar Melayu (SIAK) - Bupati Siak, Drs. H. Syamsuar, M.Si secara resmi membuka Festival Siak Bermadah (FSB) XIII tahun 2015 di lapangan Siak Bermadah, Jalan Sultan Ismail Kelurahan Kampung Dalam Kecamatan Siak, Sabtu malam (10/10). Kegiatan ini bertujuan mempromosikan berbagai seni budaya dan adat istiadat Kabupaten Siak, di samping untuk saling mengenali seni dan adat budaya daerah lain.

Didampingi Wakil Bupati Siak Drs. H. Alfedri, M.Si dan Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Siak, H. Wan Anuar, Bupati Siak dalam sambutannya mengatakan bahwa sejak dahulu seni dan budaya telah lama bersebati di sanubari dan kehidupan orang-orang Melayu Siak, tanah Sri Sultan yang sejarahnya terang bertapak di seantero semenanjung Melayu. 

Kejayaan peradaban Melayu di masa lalu itu sejatinya harus terus dipelihara dan dilestarikan laksana jati diri sebagai anak keturunan.

Sebagaimana petuah orang-orang tua dan para pendahulu, Tuah sakti hamba negeri, Esa hilang dua terbilang. Patah tumbuh hilang berganti, tak kan melayu hilang di bumi, maka itu Bupati meyakini bahwa semangat yang terkandung dalam ungkapan ini ialah tentang harapan agar Melayu dapat terus nyata wujudnya di dunia. Serta sejatinya mengamalkan dan berpegang pada azas nilai-nilai melayu yang murni.

Syamsuar mengaku amat gembira dengan perkembangan pembinaan kebudayaan Melayu di kawasan ini. Di mana eksistensi kebudayaan melayu tidak hanya wujud dalam peranan sebagai jati diri dan pendidikan bagi generasi muda harapan bangsa semata, namun eksistensi Melayu juga telah lama wujud sebagai sebuah nilai-nilai pemersatu bagi seluruh masyarakat yang ada di Kabupaten Siak.

"Selaku pemangku tampuk amanah pemerintahan di Kabupaten Siak, kami tentunya sangat gembira dengan eksistensi Melayu saat ini," ungkap Bupati.

Laporan panitia kegiatan Siak Bermadah XIII yang disampaikan oleh Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Siak, H. Hendrisan S.Sos, M.Si, pada FSB XIII tahun 2015 ini, selain menghadirkan tamu dari Singapura, juga mengundang tamu budaya dari Provinsi Sumatera Utara (Medan), Jambi, Aceh dan Dumai. FSB XIII juga diikuti oleh 14 Kecamatan se Kabupaten Siak.

Sementara, untuk jenis pertandingan yang dilaksanakan Panitia yakni mulai dari Lomba Tari Zapin Tradisional, Zapin Kreasi, Lawak, Bujang dan Dara dan Syair berpasangan. "Berbagai pertandingan seni budaya lainnya juga akan menyemarakkan acara Festival Siak Bermadah ke XIII tahun 2015 ini," terang Hendrisan.

Turut hadir dalam acara ini Sekretaris Daerah Kabupaten Siak Drs. H. Tengku Said Hamzah, M.Si, Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Riau Fahmizal MT, M.Si, Konsulat Malaysia untuk Provinsi Riau Hardi bin Amren, para Pejabat teras di lingkungan Pemkab Siak, Unsur Muspida serta tamu undangan dari berbagai daerah di Indonesia. Seribuan dari berbagai elemen turut hadir menyaksikan acara ini.

Eksistensi Daerah
Untuk diketahui, Festival Siak Bermadah merupakan agenda rutin tahunan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Siak. Festival yang menjadi salah satu iven kebanggaan ini juga menjadi modal dasar guna mempertegas eksistensi kabupaten Siak sebagai "Bumi Melayu Negeri Istana"

Bukanlah sekedar even seremonial saja, FSB memiliki arti dan makna strategis sebagai upaya pemerintah daerah dalam menjulang seni budaya dan adat resam Melayu sebagai khazanah kekayaan yang ada di Kabupaten Siak. 

Bupati Siak menegaskan, berbagai nilai dan norma dalam adat istiadat Melayu hendaknya terus melekat pada setiap kepribadian dan pola perilaku masyarakat Kabupaten Siak. Oleh karenanya, pola pengembangan kebudayaan yang dilakukan hendaknya senantiasa sejalan dengan pola kebijakan pengembangan sumber daya manusia.

Pengembangan itu sendiri harus dimulai dari dari usia dini kepada anak-anak di Kabupaten Siak, yakni melalui pelajaran budaya pada mata pelajaran muatan lokal dalam  kurikulum pendidikan usia dini di sekolah-sekolah, baik tingkat pendidikan dasar, menengah maupun di jenjang pendidikan tinggi.(adi)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.