Home / Wisata / Danau Tajwid, Tempat Menangkap Ikan yang Menjadi Destinasi Wisata

Danau Tajwid, Tempat Menangkap Ikan yang Menjadi Destinasi Wisata

Danau Tajwid, Tempat Menangkap Ikan yang Menjadi Destinasi Wisata
Internet

Jika selama ini  Kabupaten Pelalawan hanya dikenal dengan wisata Bono saja, ternyata daerah ini masih menyimpan destinasi wisata lain yang tak kalah menarik. Salah satunya Danau Tajwid, danau milik masyarakat adat yang hingga saat ini masih terjaga kelestariannya.

 

Kabar Melayu (LANGGAM) - Di Provinsi Riau, Danau Tajwid atau Kajuid di Kecamatan Langgam Kabupaten Pelalawan, keberadaannya tidaklah begitu dikenal. Selain potensi ikannya, ternyata danau ini juga menyimpan banyak hal menarik, termasuk potensi hutan alam yang masih terjaga kelestariannya. Selama ini, danau milik masyarakat adat Langgam ini dijaga oleh kaum adat bathin dan ninik mamak. Bahkan untuk pengelolaan potensi di dalamnya juga dilakukan secara adat.

Bupati Pelalawan HM Harris di sela kunjungan Majelis Kemajuan Pelalawan (MKP) ke Kecamatan Langgam, Sabtu (31/10/2015) menjelaskan, selama ini Danau Tajwid menjadi salah satu sumber mata pencarian masyarakat sebagai tempat mencari ikan. Sistem pengelolaannya dilakukan dengan pelelangan, yakni melalui lelang adat yang dlakukan setiap tahun. Dari lelang ini hasilnya digunakan untuk kebutuhan adat dan keagamaan. 

Selain potensi ikan, Danau Tajwid juga memiliki potensi alam berupa hutan alam dan panorama yang belum termanfaatkan secara maksimal. Ini dikarenakan lokasinya berupa rawa yang tak mendukung serta belum adanya fasilitas dan sarana prasarana.

Untuk mengangkat nilai tambah milik adat dan berbagai potensi yang tersimpan di danau ini, masyarakat adat Langgam sepakat menyerahkan pengelolaan Danau Tajwid kepada Pemerintah Kabupaten Pelalawan. Tujuannya agar potensi yang tersimpan di danau ini menjadi nilai tambah dalam hal ekonomi pendapatan dan juga kemajuan masyarakat adat sendiri.

Harris menuturkan, dari tujuh program prioritas di Kabupaten Pelalawan, salah satunya adalah pengembangan objek wisata Bono. Pemkab Pelalawan memasukkan Danau Tajwid dan beberapa objek lainnya sebagai pendukung wisata Bono yang menjadi ikon abupaten Pelalawan. 

Danau Tajwid, kata Bupati, menjadi destinasi wisata yang sangat penting dan sangat menentukan sebagai pendukung wisata Bono. Dikarenakan kehadiran Bono yang tidak setiap saat, Danau Tajwid menjadi alternatif pariwisata pendukung. Di lokasi Danau Tajwid yang menarik dan menyenangkan ini juga terkandung berbagai keindahan alam dan potensi lain yang menarik minat wisatawan.

"Danau Tajwid harus dikelola untuk memberikan nilai tambah bagi masyarakat adat dan menjadi destinasi wisata Kabupaten Pelalawan. Dari sebelumnya hanya tempat mencari ikan, akan disulap menjadi tempat wisata, tempat pelestarian alam dan ikan, tempat pendidikan, olahraga dan permainan. Ini akan memberikan nilai tambah bagi masyarakat adat yang nantinya ikut berusaha di lokasi," urai HM Harris.

Untuk masterplannya, Danau Tajwid akan dikembangkan dengan membuat zona-zona tanpa merusak keaslian lingkungan danau. Yakni Zona Botanikal (tanam-tanaman pertanian), Zona Perikanan (Konservasi Perikanan Air Tawar), Zona Kehutanan (Keasrian hutan alam dan kearifan lokalnya) dan Zona Edukatif (Pendidikan). Danau Tajwid yang mempunyai Pulau Tengah seluas kurang lebih 20 hektar, rencananya juga akan dibuat jalur jogging track dan olahraga. Begitu  juga olahraga air dengan berbagai permainan wisata air tawar. Para pengunjung yang ingin ke lokasi Danau Tajwid bisa memanfaatkan angkutan sepeda yang disewakan oleh penduduk setempat atau kereta listrik atau berjalan kaki. Dengan begitu, lokasi ini akan jauh dari hingar-bingar kendaraan.

Di sepanjang jalur jogging track akan ditanami berbagai tanaman buah-buahan lokal. Di sekitar danau juga dirancang home  stay dan wisata kuliner lokal ditambah gazebo-gazebo atau pondok-pondok di pinggiran danau. Sedangkan di Pulau Tengah yang dikelilingi danau, terdapat rumah rumah pohon tempat menginap para wisatawan. Rumah pohon ini berupa penginapan di atas dahan-dahan kayu yang disambungkan antara pohon satu ke pohon yang lain.

Keaslian hutan alam, kebersahabatan alam serta kearifan alam akan menjadi daya tarik tersendiri wisata rumah pohon. Di Pulau Tengah ini akan terasa seperti di hutan alam tropis asli yang suara alamnya hanya ada Pulau Tengah Danau Danau Tajwid. 

Lebih jauh, potensi lain di Danau Tajwid yang menjadi daya tarik lainnya adalah, danau ini menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar. Khususnya ikan Arwana (kayangan) yang hidup secara alami di danau ini menandakan bahwa keaslian dan kelestarian alam di Danau Tajwid ini masih terjaga dengan baik.

Selain itu, keramba-keramba ikan peliharaan yang ada di lokasi ini juga menjadi daya tarik tersendiri. Menabur makanan ikan ke danau ternyata menjadi keasikan tersendiri bagi pengunjung Danau Tajwid. Untuk diketahui, ikan asli Sungai Kampar yang dipelihara di danau ini bukanlah untuk dikonsumsi, tetapi untuk dilestarikan.

Salah satu faktor penting yang mendukung terwujudnya Danau Tajwid sebagai destinasi wisata adalah tersedianya infrastruktur, di mana jaringan listrik menjadi salah satu yang terpenting. Potensi listrik dari PLTMG Langgam Power yang berada tak jauh dari Danau Tajwid, memungkinkan lokasi ini akan segera teraliri listrik. Keberadaan Langgam Power akan menjadikan menjadi hutan sekitar danau  terang benderang di malam hari. 

Pohon-pohon akan dipasang penerangan dan berbagai permainan wisata. Sedikit mengupas tentang asal usul tentang danau ini, Tajwid adalah nama pohon yang tumbuh di pinggiran danau. Ketika musim banjir tiba, buah pohon Tajwid yang rasanya asam akan jatuh ke air dan menjadi makanan berbagai jenis ikan air tawar di danau ini.

Gugurnya buah dari pohon Tajwid ini merupakan sebuah pertanda berkumpulnya ikan di danau ini. Ternyata, buah Tajwid ini juga mengundang kedatangan berbagai jenis ikan air tawar lainnya dari Sungai Kampar yang tersambung dengan danau ini.(rec)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.