Home / Profil / Ki Bagus Hadikusumo Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional

Ki Bagus Hadikusumo Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional

Tokoh Penting Muhammadiyah

Ki Bagus Hadikusumo Dinobatkan Sebagai Pahlawan Nasional
internet
Ki Bagus Hadikusumo

Kabar Melayu (JAKARTA) - Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar pahlawan nasional pada lima tokoh, salah satunya Ki Bagus Hadikusumo, tokoh yang cukup penting bagi Muhammadiyah dan Indonesia. Penganugerahan gelar dilakukan di Istana Negara, Kamis (5/11).

Lima tokoh yang diberi gelar pahlawan nasional yakni Bernard Wilhem Lapian (alm), Mas Iman (alm), Komjen Pol Moehammad Jasin (alm), I Gusti Ngurah Made Agung (alm) dan Ki Bagus Hadikusumo (alm). Kelimanya dikukuhkan sebagai pahlawan nasional melalui Keputusan Presiden (Keppres) 116/TK Tahun 2015. 

Mereka dianggap telah memenuhi syarat untuk memperoleh gelar pahlawan nasional, seperti yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang gelar, tanda jasa dan tanda kehormatan. Berdasarkan UU tersebut, syarat-syarat yang harus dipenuhi seorang pahlawan nasional antara lain, pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, politik, atau perjuangan bidang lain untuk mencapai dan mempertahankan kemerdekaan bangsa Indonesia. 

Selain itu, seorang pahlawan nasional juga disyaratkan tak pernah menyerah pada musuh.  

Penganugerahan gelar pahlawan nasional ini merupakan agenda rutin yang dilakukan Istana jelang Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November. Pada puncak peringatan Hari Pahlawan nanti, Presiden Jokowi akan menjadi inspektur dalam upacara peringatan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Surabaya.

Berani dan Produktif
Sedikit mengenal tentang sosok Ki Bagus Hadikusumo, pahlawan perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia ini adalah tokoh penting bagi Indonesia dan bagi Muhammadiyah. Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah tahun 1942-1953, Ki Bagus termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Perannya sangat besar dalam perumusan Muqaddimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan.

Ki Bagus Hadikusumo juga berhasil merumuskan pokok-pokok pikiran Ahmad Dahlan sedemikian rupa, sehingga dapat menjiwai dan mengarahkan gerak langkah serta perjuangan Muhammadiyah. Bahkan, pokok-pokok pikiran itu menjadi Muqadimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Muqaddimah yang merupakan dasar ideologi Muhammadiyah ini juga menginspirasi sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya.

Ulama ini dikenal produktif menuliskan buah pikirannya. Beberapa buku karyanya antara lain, Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin, Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954). Dari karya-karyanya tersebut, tercermin komitmen terhadap etika dan bahkan juga syariat Islam.

Pada masa pendudukan Jepang, Ki Bagus menentang “Sei Kerei” yang diwajibkan bagi sekolah-sekolah setiap pagi hari. Beliau menentang pimpinan tentara Dai Nippon yang terkenal ganas dan kejam untuk memerintahkan umat Islam dan warga Muhammadiyah melakukan upacara kebaktian setiap pagi sebagai penghormatan kepada Dewa Matahari. 

Ki Bagus merasa terpanggil untuk menyelamatkan generasi muda dari kesyirikan, bahwa upacara tersebut jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam. Setelah melalui debat yang sangat seru, menegangkan dan beresiko tinggi dengan pihak Jepang, pemerintah Jepang akhirnya memberi dispensasi khusus bagi sekolah Muhammadiyah untuk tidak melakukan upacara tersebut.

Tokoh yang komit terhadap syariat ini dilahirkan di kampung Kauman, Yogyakarta dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi’ul Akhir 1038 Hijriyah. Beliau adalah putra ketiga Raden Haji Lurah Hasyim dari lima bersaudara lainnya. Ayahnya adalah seorang abdi dalem putihan agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Seperti umumnya keluarga santri, Ki Bagus mulai memperoleh pendidikan agama dari orang tuanya dan beberapa Kiai di Kauman. Setelah tamat dari Sekolah Ongko Loro (tiga tahun tingkat sekolah dasar), Ki Bagus belajar di Pesantren Wonokromo, Yogyakarta. Di Pesantren ini ia banyak mengkaji kitab-kitab fiqih dan tasawuf.

Sekolah Ki Bagus Hadikusumo tidak lebih dari sekolah rakyat (sekarang SD), ditambah mengaji dan besar di pesantren. Namun, berkat ketekunan mempelajari kitab-kitab terkenal, akhirnya ia menjadi alim mubaligh dan pemimpin ummat.

Ki Bagus Hadikusumo wafat pada usia 64 tahun. Beliau wafat meninggalkan sebuah teladan dan landasan perjuangan. Tugas generasi berikutnya adalah melanjutkan apa yang sudah beliau bangun, mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.***

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.