Home / Features / Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (1)

Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (1)

Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (1)
Internet
Sumatra Courant

Kabar Melayu - Pertengahan abad XVIII disinyalir sebagai masa awal terbitnya surat kabar di Hindia Belanda. Namun umumnya surat-surat kabar yang terbit masa itu diterbitkan oleh orang-orang Belanda dan berbahasa Belanda.

Seiring itu, beberapa waktu kemudian bermunculan pula surat-surat kabar yang diterbitkan dalam bahasa Melayu yang kebanyakan beraksara Arab Jawi, aksara Jawa ataupun campuran dengan aksara Latin.

Sedangkan surat kabar pertama di Hindia Belanda yang diterbitkan dalam bahasa Melayu dan murni beraksara Latin serta memiliki redaksi orang pribumi asli dan diterbitkan oleh orang pribumi asli adalah surat kabar Warta Berita yang terbit pada tahun 1901.

Tertua di Sumatera

Menurut berbagai catatan, surat kabar tertua di Sumatera adalah Sumatera Courant yang didirikan pada tahun 1859 di kota Padang, Sumatera Barat. Mula-mula koran ini berukuran kecil, terbit hanya beberapa kali dalam seminggu. Pendirinya seorang Indo terkenal di Padang pada abad 19 bernama L.N.H.A. Chatelin. Dia sekaligus menjadi Pemimpin Redaksinya.

Entah apa sebabnya, perusahaan tersebut dijual ke tangan seorang Indo terkenal bernama H.A. Mess, walaupun Chatelin tetap sebagai Pimpinan redaksi. Tahun 1878 koran ini telah terbit tiap dua hari sekali, tetapi nama Chatelin tidak disebut-sebut lagi.

Hampir bersamaan waktunya, terbit pula di Padang surat kabar tertua nomor dua, yaitu Padangsche Nieuws en Advertentieblad oleh R.H. Van Wijk Rz. Edisi perdananya muncul tanggal 17 Desember 1859, seterusnya terbit tiap Sabtu.

Koran tertua nomor tiga ialah Padangsche Handelsblad, mulai terbit tahun 1871 oleh sebuah perusahaan milik seorang Indo bernama H.J. Klitsch & Co. Mula-mula terbit hanya dua kali seminggu, tapi semenjak 1881 meningkat menjadi tiga kali. Semenjak tahun itu pula nama penerbitnya seperti tercantum di koran itu sendiri, menjadi Klitsch & Holtzapffel.

Redaksinya dipimpin oleh seorang yang tak asing lagi di Padang, yaitu Mr. J. van Bosse, pengacara terkenal.  Tahun 1883 nama koran ini diganti menjadi Nieuw Padangsche Handelsblad.

Koran tertua nomor empat adalah De Padanger yang mulai terbit pada awal Januari 1900. De Padanger merupakan hasil merger antara Sumatera Courant dengan Nieuw Padangsche Handelsblad setelah perusahaan penerbitannya diambil alih oleh J. van Bosse. Sejak saat itu De Padanger terbit setiap hari.

Kedua surat kabar tadi menguasai opini umum selama paruh kedua abad yang lalu. Mereka sering cakar-cakaran. Walaupun menentang keras segala upaya pemerintah memajukan pendidikan modern bagi anak-anak pribumi dan pada umumnya sering mengejek bangsa pribumi, namun harus diakui bahwa tidak sedikit tulisan mereka menghantam secara keras politik Belanda.

Yang paling banyak dikritik ialah keserakahan bangsa Belanda, tetapi kritik mereka bukan disebabkan mereka bersimpati pada perjuangan kaum pribumi, tetapi lebih pada karena kepentingan mereka yang semakin terdesak bahkan dengan semakin banyaknya pergerakan kemerdekaan dari pribumi, semakin keras mereka menentang perjuangan kemerdekaan, karena mereka menganggap orang Indo (Belanda) lebih tinggi dari bangsa Indonesia. Pada perang dunia kedua, banyak sekali dari kaum Indo ini mendukung kaum Fasis.

Bersamaan dengan mergernya Sumatera Courant dan Nieuw Padangsche Handelsblad menjadi De Padanger sejak awal Januari 1900, kedua usaha penerbitan juga disatukan dengan nama baru: "N.V. Snelpersdrukkerij Insulinde’" berkantor di Pondok. Saingan mereka ialah koran Sumatera Bode yang telah terbit pada tahun 1892 oleh Karl Baumer. Keluarga Baumer merupakan pengusaha suskes di kota Padang pada awal abad ke 19.

Koran Berbahasa Melayu

Koran berbahasa Melayu tercatat terbit pertama pada tahun 1877 di Padang dengan namanya Bentara Melayu. Koran ini berukuran kecil dan terbit tiap hari Selasa sejak Juni 1877, dipimpin oleh seorang Indo bernama Arnold Snackey. Ibunya adalah anak Datuk Mudo, salah seorang penghulu di Air Bangis. Tidak lama terbitnya, pada akhir tahun 1877 sudah tak terbit lagi.

Tetapi ini mudah dimengerti. Menerbitkan koran dalam bahasa Melayu, sedangkan orang Melayu sendiri waktu itu belum banyak bisa membaca tulisan Latin, memang sulit. Orang Belanda sendiri pasti tidak mau berlangganan, apalagi bicara tentang pemasangan iklan.

Rupa-rupanya Snackey telah membicarakan terlebih dahulu dengan pihak gereja untuk bertindak sebagai sponsor. Kalangan gereja ini melihat banyak keuntungan akan bisa dicapai melalui sebuah penerbitan. Mungkin sekali modal pertama didapatnya dari pihak gereja. Menurut sebuah artikel dalam salah satu koran waktu itu timbul percekcokan antara Snackey dan sponsornya hingga Bentara Melayu distop penerbitannya sesudah hidup hanya selama setengah tahun.

Dalam buku "Sejarah Pers Indonesia" karangan Abdurrachman Surjomihardjo, disebut bahwa surat kabar yang tertua berbahasa Melayu adalah Bintang Pertama yang disebutkan terbit di kota Padang tahun 1871. Tetapi kebenarannnya sulit ditelusuri, selain karena tidak ada satu eksemplar pun yang tersisa, surat-surat kabar lain di kota Padang tidak pernah menyebut apapun tentang keberadaannya. Padahal biasanya surat kabar waktu itu sering sekali menyerang artikel-artikel atau paling sedikit memberi komentar pada surat kabar yang lain.

Bentara Melayu, Pelita Kecil, Warta Berita dan lain-lain pada saat ini tidak dapat dilihat contohnya. Tetapi kita tahu bahwa koran-koran itu memang pernah terbit berkat surat kabar lain yang menulis. Oleh karena itu agak diragukan apakah Bintang Pertama itu betul-betul pernah terbit di Padang, kira-kira 6 tahun sebelum Bentara Melayu atau mungkin hanya salah cetak dan tidak di kota Padang, tetapi di tempat lain.

Sebuah lagi surat kabar tua berbahasa Melayu, di bawah pimpinan pribumi asli walaupun masih diterbitkan oleh seorang Belanda, ialah Pelita Kecil terbit untuk pertama kalinya tanggal 1 Februari 1886. Pemimpinnya Mahyuddin Datuk Sutan Marajo. Penerbitnya (H.A. Mess) ialah pemimpin umum harian Sumatera Courant.

Kelompok Sumatera Courant tadi, tahun 1892 menerbitkan lagi surat kabar berbahasa Melayu yaitu Pertja Barat di bawah pimpinan Ja Endar Muda. Awal abad ini Ja Endar Muda pernah pula memimpin koran berbahasa Batak, Tapian na Uli yang diterbitkan oleh penerbit yang sama. Di samping itu Ja Endar Muda juga memimpin surat kabar berbahasa Belanda yaitu Sumatera Nieuwsblad pada tahun 1904. Ja Endar Muda aktif dalam bidang penerbitan antara lain: Editor Padang’s Insulinde, sebuah buku pelajaran bulanan berbahasa Melayu untuk para guru, duduk dalam dewan editor surat kabar Alam Minangkabau, di Medan ia juga menerbitkan Pewarta Deli. Sayang, kedua penerbitan ini tidak bertahan lama.

Harian Sumatra Bode yang dipimpinan Paul Baumer tahun 1897 juga menerbitkan koran berbahasa Melayu, yaitu Tjaja Sumatra, pada permulaan pimpinan redaksi dipegang oleh Lim Soen Lin dan terus terbit hingga Jepang datang menyerbu ke Sumatra.

Bersambung

Surat Kabar Melayu Beraksara Latin Pertama di Indonesia (2)

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Pembaca berhak melaporkan komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah, atau berbau SARA. Redaksi akan menilai laporan dan berhak memberi peringatan dan menutup akses terhadap pemberi komentar.